Rasa

Diamnya bukan terlalu santai.
Dan juga bukan karena sesal
Karena ada saatnya diam jika berkata juga tak akan mmbuat berubah

Atas kesalahan yang luput
Bukan tanpa sebab
Karena keharapan yang mendalam

Namun malam berganti menjadi topan
Gejolak raga tak menginginkan
Untuk awan bersahabat dengan pekatnya angin
Mengguncang malam
Meruntuhkan bangunan
Menumbangkan segala pepohonan
Hanya semenit berlalu, hening menyapa subuh

Tiada hilang sedikitpun rasa
Menjadi duri yang merobek sutra
Tetap sama dari awal kumengenal rasa

Perlahan tertata, selalu gagal untuk mengembalikannya
Hingga akhirnya runtuh semua
Cita.

Di asah agar selalu tajam tapi tertolak
Di dayuh agar sampai tujuan namun dihempas ombak
Perjuanganpun terhenti

Ketika hujan badai menerjang
Nahkodapun terhempas
Nahkoda terganti,
Namun tidak akan sama rasa
Tak akan sama rupa
Walau harap akan sama
Tapi tidak akan bisa

Karena rasa selalu melekat
Pada lidah yang ikhlas dan tulus untuk mencoba

Ntah itu bahagia, atau hanya rasa





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chef yang Tertukar

Sarjana yang TAK dirindukan